Breaking News
Home / Artikel Islam / 4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan
4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan
4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan

4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan

4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan
4 Bahaya meninggalkan kekhusyukan

Ibadah yang paling utama dalam kehidupannya orang iman, yang paling dicintai oleh Alloh, yang paling bisa mendekatkan diri pada Alloh dan amalan yang dihisab pertama kali oleh Alloh pada hari qiyamah adalah ibadah shoat. Sehingga gerakan – gerakan dan bacaan – bacaan yang dibaca dan yang dilakukan harus sesuai dengan ketentuan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits secara sempurna.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتُقِصَ مِنْهَا شَيْءٌ قَالَ انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ يُكَمِّلُ لَهُ مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَةٍ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ سَائِرُ الْأَعْمَالِ تَجْرِي عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ * رواه النسائى

“Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali dihitung adalah sholatnya maka jika sholatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Sebaliknya apabila sholatnya rusak maka ia celaka dan merugi. Kemudian jika ada dalam sholat wajibnya kurang, Alloh SWT berfirman kepada malaikat – padahal ia lebih tahu – ‘lihatlah apakah hamba-Ku mengerjakan sholat sunnah, maka jika ia mengerjakan, maka sempurnakanlah sholat wajib hambakudengan sholat sunnahnya!’ Kemudian amalan-amalan lainnya diperlakukan demikian” (H.R An-Nasa’i)

Bacaan di dalam sholat dikategorikan sempurna apabila dibaca dengan pelan – pelan, fasih dan menghayati maknanya sebab bacaan dalam sholat tersebut ditujukan untuk berkomunikasi dengan Alloh, sehingga apabila diucapkan harus dengan hati yang khusuk.

Begitu juga gerakan – gerakan dalam sholat bisa dikatakan sempurna apabila bisa menjaga kekhusukan dan thuma’ninahan dalam sholat. Sehingga ketika sholat harus khusu’ dan thuma’ninah, kalau tidak bisa khusu’ dan thuma’ninah dalam sholat maka sholatnya tidak sempurna.

Dampak negatifnya meninggalkan thuma’ninah dalam sholat :

  1. Tidak thuma’ninah adalah ciri – ciri sholatnya orang munafiq

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « … تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً » * رواه مسلم

Dari Anas bin Malik dia berkata : Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : … demikian itu (mengakhirkan sholat ashar) adalah sholatnya orang munafiq, dia duduk santai mengamati matahari, sehingga ketika matahari telah berada diantara dua tanduknya syetan (hampir terbenam) maka dia berdiri (untuk mengerjakan sholat) lalu dia mematuk – matuk sholat 4 rokaat (mengerjakan dengan cepat tidak thuma’ninah), dia juga tidak ingat pada Alloh (tidak khusyu’) dalam sholat kecuali sedikit.

  1. Tidak thuma’ninah adalah ciri – ciri orang yang tidak khusyu’ dalam sholat

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ ، أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً عَبَثَ فِي صَلاَتِهِ ، فَقَالَ : لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا خَشَعَتْ جَوَارِحَهُ * رواه نعيم بن حماد في الزهد والرقائق

Dari Sa’id bin musayyab dia melihat seorang laki – laki bermain – main dalam sholatnya (tidak thuma’ninah), lalu dia berkata : seandainya hati orang ini khusu’ maka khusu’ pula anggota badannya.

  1. Sejelek-jeleknya pencuri adalah orang yang tidak thuma’ninah dalam sholatnya

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً، الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا؟ قَالَ: ” لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا * رواه أحمد

Dari Abi Said, sesungguhnya wahai Rosululloh SAW bersabda : Sesungguhnya sejelek – jeleknya mencuri adalah orang yang mencuri sholatnya. Mereka shohabat bertanya : wahai Rosululloh SAW bagaimana bisa dia mencuri sholatnya?, beliau menjawab : dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya (tidak thuma’ninah).

  1. Sholat yang tidak thuma’ninah hukum sholatnya batal, tidak sah, sama dengan tidak sholat, harus mengulangi lagi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلاَثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا * رواه البخارى

Dari Abi huroiroh ” Sesungguhnya Rasulullah SAW masuk Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk kemudian ia sholat. Kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menjawab salamnya dan bersabda:“ Kembali dan ulangilah sholatmu, karena kamu belum sholat (dengan sholat yang sah)!” Lalu orang itu kembali dan mengulangi sholat seperti semula. Kemudian ia datang menghadap kepada Nabi SAW sambil memberi salam kepada beliau. Maka Rasulullah SAW bersabda:” Wa’alaikas Salaam” Kemudian beliau bersabda:“ Kembali dan ulangilah sholatmu karena kamu belum sholat!” Sehingga ia mengulang sampai tiga kali. Maka laki-laki itu berkata:“ Demi Dzat yang mengutus anda dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari sholat seperti ini, maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda:“Jika kamu berdiri untuk sholat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian ruku’-lah hingga benar-benar thuma’ninah (tenang/mapan) dalam ruku’, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak (lurus), kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga thuma’ninah dalam keadaan dudukmu. Kemudian lakukanlah semua itu di seluruh sholat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari)

 

 

Check Also

Keharmonisan Rumah Tangga (Bag.2)

Keharmonisan Rumah Tangga (Bag.2)

2. Bisa saling menerima kelemahan dan kelebihan masing – masing serta bisa saling mensyukuri … …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *