Breaking News
Home / Iptek / Banyak Remaja Yang Menyembunyikan Aktivitas Dunia Maya

Banyak Remaja Yang Menyembunyikan Aktivitas Dunia Maya

Banyak Remaja Yang Menyembunyikan Aktivitas Dunia Maya

LDIIKediri.com, (14/04). Teknologi sekarang sudah tidak dapat di pisahkan dari kehidupan seseorang, apalagi pada anak muda sekarang. Apalagi dengan semakin canggihnya teknologi, sebagai orang tua kita harus selalu mengontrol apa saja yang dikerjakan anak-anak kita saat mereka sedang berseluncur didunia maya. Sebab, hampir setengah dari anak muda atau 44 persen anak muda menyembunyikan aktivitas online yang berpotensi berbahaya dari orang tua mereka.

Bahaya-media-sosial
Bahaya media sosial

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Kaspersky Lab dan lembaga iconKids & Youth, anak muda tidak hanya berdiam diri tentang perilaku online yang dilarang tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk melewati kontrol orangtua.

“Pendidikan dari orang tua memainkan peran utama dalam perlindungan kepada anak-anak secara online. Jika anak-anak berpikir bahwa orangtua mereka mampu dengan tenang membahas permasalahan yang mereka hadapi, maka anak-anak akan jauh lebih mungkin untuk curhat kepada orang tuanya. Itulah mengapa sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui lebih lanjut tentang ancaman online,” kata Janice.

Menurut Richardson, Senior Advisor di European Schoolnet. Semakin dewasa anak maka semakin mereka menyembunyikannya. Pada usia 8-10 tahun hanya sepertiga atau 33 persen anak muda yang tidak memberitahu orang tua mereka tentang insiden di Web, namun jumlah itu meningkat menjadi 51 persen untuk remaja berusia 14-16.

Banyak orang tua dari anak-anak yang “tidak komunikatif” tersebut terus mengabaikan apa yang anak-anak mereka hadapi ketika online. Semakin berbahaya aktivitas online, orang tua cenderung kurang mencari tahu mengenai hal itu. Misalnya, 56% dari ayah dan ibu tidak tahu apa-apa mengenai jumlah aktual waktu yang anak-anak mereka habiskan di Internet, sementara hampir 70 persen tidak tahu tentang unduhan ilegal atau cyberbullying.

Anak muda tidak hanya berdiam diri tentang perilaku online yang dilarang tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk melewati kontrol orangtua. Satu dari tiga anak (30 persen) mengakui hal ini. Mereka menggunakan sandi pada perangkat mereka yang orang tua mereka tidak ketahui, mereka online ketika orang dewasa tidak ada, menghapus sejarah aktivitas online mereka, dll. Selain itu, satu dari tujuh (14 persen) menggunakan program khusus yang dapat menyembunyikan aplikasi yang mereka buka.

Pada saat yang sama, banyak anak-anak menyatakan bahwa mereka tidak melakukan apapun untuk melewati perangkat lunak kontrol orangtua. Bahkan, tiga perempat anak-anak (75 persen) merasa terbantu jika orang tua berbicara dengan mereka mengenai ancaman siber. Dan hal tersebut merupakan bantuan besar bagi orang tua yang ingin melindungi anak-anak mereka di mana pun mereka berada.

Dokter Agus Sukisno Ketua DPD LDII Kediri berpesan kepada remaja LDII agar memiliki profesional religius agar mampu menyaring informasi yang di dapat dari internet. Semoga remaja LDII mejadi Generasi Penerus yang handal di jaman digital ini dan mampu memanfaatkan informasi internet yang positif dan produktif agar bermanfaat bagi diri, orang tua, agama, bangsa dan negara yang Kita cintai NKRI.

“Pendidikan internet sehat mejadi kebutuhan wajib yang harus disampaikan pada generasi muda LDII yang dilakukan secara terus menerus baik dari orang tua maupun organisasi, materi taklim yang Kita selenggarakan,” kata Agus Sukisno Ketua DPD LDII Kabupaten Kediri.

Check Also

GEEVV

GEEVV Mari beralih ke mesin pencarian Karya Anak Indonesia Siapa sih yang tidak tahu GOOGLE …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *