Breaking News
Home / Sosial / Ketekunan menghasilkan tahan uji
Arti-ketekunan

Ketekunan menghasilkan tahan uji

Ketekunan menghasilkan tahan uji

Oleh: Yuyu Wahyudin Bani Atmadja

Dalam pertemuan dengan para wakil karyawan baru di sebuah pabrik garmen saya diminta untuk memotivasi mereka agar bertahan pada tahap pelatihan, karena saat itu mereka belum mendapat bayaran penuh hanya sekedar transport, kemudian dari sisi keterampilan mereka masih perlu menyesuaikan apalagi bagi yang belum pernah sama sekali bekerja dibidang itu, ia harus berlatih menjahit sekaligus menggunakan mesin-mesin modern, adaptasi lingkungan kerja, alat, suasana dan adftasi konsep diri.

Arti-ketekunan

Secara keseluruhan proses adaptasi itu cukup membuat mereka stress, ringan sampai sedang. Saya menjelaskan tentang stress dan adaptasi bagaimana mereka masuk pada suasana yang baru dan beradaptasi berubah dari kebiasaan lama yang menganggur pada kebiasaan baru dunia kerja. Bagaimana mereka mengatasi akibat dari stress yang ada, mereka diajarkan koping (cara mereduksi stress) yang adaptif, hingga mereka dapat bekerja dengan lebih segar lagi, siap menghadapi tantangan kerja yang disodorkan padanya.

Sebagian besar dari mereka belum pernah menjahit, padahal upah mereka ditentukan dengan jumlah produk yang dihasilkan, yang sesuai standar untuk keperluan itu saya menjelaskan pada mereka tentang kinerja. Saya katakan pada mereka bahwa kinerja ditentukan oleh 2 (dua) hal yaitu kemampuan kerja dan motivasi kerja. Khususnya tentang kemampuan kerja, selain harus memahami teori kerja dengan baik mereka harus berlatih dan melakukan pengulangan yang terus menerus. Untuk mencapai kemahiran bagi setiap orang tidak sama jumlah intensitas dan durasi latihannya, namun semuanya akan sampai pada tahap mahir tersebut.

Hal penting yang harus ada adalah ketekunan/kesabaran. Tentang ketekunan juga ternyata sebagaimana bakat ada yang memang pada dasarnya ia adalah orang yang tekun, ada yang memang mudah bosan, namun demikian untuk tekun juga perlu latihan untuk tekun, maka dibutuhkan motivasi yang intens. Tentang motivasi, ini adalah seni bagaimana memotivasi individu atau kelompok, baik dari faktor ekternal (luar) misalnya arahan dan motivasi dari pihak managemen, maupun dari internal (dalam diri) niat dan kebutuhan dari dalam diri.

Diantaranya hal yang dapat memotivasi manusia adalah: kebutuhan materil (benda yang diinginkan,financial, kedaraan dll) , kebutuhan psikologis( rasa nyaman,aman, penghargaan, penerimaan dan pengakuan), dan spiritual kebutuhan pengabdian pada Alloh (hidup adalah ibadah). Motivasi yang relative langgeng adalah motivasi spiritual dimana orang diarahkan bekerja adalah ibadah sebagai pengabdian pada Alloh SWT, namun hal ini juga harus disadari keberadaan dan kehadirannya.

Untuk menyadarkan ini perlu pengingat yang inten (arang-arang wulune kucing.Jawa Red.) dan sesuai dengan kebutuhan; motivasi dan nasehat dengan topic yang relevan agar tepat sasaran. Untuk itu diri mereka dianjurkan untuk membiasakan mencari referensi dengan membaca, mendengar, bergaul atau rajin mengikuti pengajian serta mendengarkan nasehat.Semua perlu proaktif (menyengaja), disiplin untuk tekun/sabar.” Bukan karena saya sangat cerdas, hanya saja karena saya tekun dalam menghadapi permasalahan lebih lama”, Demikian kata Albert Einsten.

Dalam tindakan tekun/sabar akan menemukan kejelasan, menemukan pembiasaan, menemukan reflek yang semakin lama, makin ringan sehingga mencapai kemahiran yang berimplikasi kesuksesan. Tekun tak dapat digantikan oleh kecerdasan cognitive (IQ).Pemilik ketekunan adalah setara dengan kegeniusan. Namun ketekunan merupakan pilihan, dapat dipelajari dan dilatih, dibubuhi semua kegiatannya dengan imajinasi terindah yang ingin kita capai dimasa mendatan, sehingga bertekun menimbulkan kenikmatan. (Analisis, Napolein Hill; Think Rich).

Konsep Ketekunan mengacu pada ketekunan ibadah sebagaimana dalil-dalil dibawah ini:

Karena itu bersabarlah engkau. Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan janganlah engkau merasa kecil hati terhadap orang-orang yang tidak meyakini Hari kiamat itu. (Ar-Rum: 60).

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan tingkatkan ketabahan serta pertinggilah kewaspadaanmu. Dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat kemenangan. (Al-Imran: 200).

Bersabarlah hai Muhammad sabarmu itu tiada lain dari pertolongan Allah jua. Lagi pula janganlah hatimu terenyuk oleh karena kekafiran mereka, dan jangan pula kamu berdada sempit terhadap rencana jahatnya. (An-Nahl: 127)

Dan sesungguhnya Kami benar-benar hendak mengujimu sehingga Kami mengetahui siapa di antaramu yang benar-benar berjihad dan bersabar. Dan Kami akan menyatakan benar atau palsu keadaan keimananmu. (Muhammad: 31)

Sesungguhnya kamu akan diuji tentang harta dan dirimu. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar banyak hal-hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu adalah hal-hal yang utama. (Al-Imran: 186)

Sekarang Allah meringankan bebanmu, karena Dia mengetahui, bahwa di antaramu ada yang lemah. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang tabah, niscaya mereka dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika ada diantaramu seribu orang yang tabah, tentu ia dapat mengalahkan duaribu orang dengan izin Allah. Dan Allah bersama dengan orang-orang yang tabah. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah bertengkar sesamamu, nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Dan tabahlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah. (An-Anfal: 66;46)

Ketekunan merupakan sifat inti seorang mukmin guna mencapai surga. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan sifat seorang mukmin:

Merekalah orang-orang yang berhati teguh dan mempercayakan diri pada Tuhannya.( An-Nahl: 42).

Check Also

Mengendalikan Masa Remaja Tanpa Mengekang

Mengendalikan Masa Remaja Tanpa Mengekang LDII memberikan perhatian serius terhadap dunia remaja dengan mengadakan seminar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *