Home / Berita LDII / Presiden Joko Widodo bersama LDII Membahas Radikalisme di Istana Negara

Presiden Joko Widodo bersama LDII Membahas Radikalisme di Istana Negara

Presiden Joko Widodo bersama LDII Membahas Radikalisme di Istana Negara

Semakin maraknya terorisme di indonesia membuat pemerintah memberikan perhatian lebih, di antaranya mengundang LDII dan ormas islam lainnya untuk membahas tentang radikalisme dan penanganannya.

LDII yang di pimpin Prof. KH. Abdullah Syam, sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang datang bersama pengurus ldii lainnya menyampaikan kepada presiden menolakan atas radikalisme yang beratribut Islam, LDII juga menyampaikan road map menuju Revolusi Mental dan Nawa Cita yang diusung Presiden Joko Widodo semenjak pilpres beberapa waktu lalu.

DPP-LDII-Di-Undang-Ke-Istana

“Kami menolak hal-hal yang bertentangan dengan Pancasila. Radikalisme merupakan kontra Islam yang damai, sekaligus bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Islam itu rahmatan lil alamin,” tegas Abdullah Syam. Itulah bentuk penegasan bahwa LDII benar-benar menolak paham radikalisme, aksi terorisme, dan penyalahgunaan narkoba.

LDII bersama dengan TNI Polri melakukan kerjasama pelatihan bela negara, pelatihan Dai Kamtibmas, dan sarasehan wawasan kebangsaan dalam upaya mencegah derekalisasi. Acara tersebut di laksanakan di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Lampung dan berbagai daerah lain. Selain melakukan kerjasama dengan TNI Polri, LDII juga bekerja sama dengan PBNU menggelar pelatihan juru dakwah, untuk dakwah yang damai dan jauh dari kekerasan dan radikalisme.

Ketum LDII menyampaikan bahwa kemajemukan bangsa indonesia harus benar-benar di jaga untuk membangun peradaban agar menjadi kekuatan bangsa. “Bangsa ini harus saling bekerja sama, tantangan kita adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, agar Indonesia menjadi negara yang makmur. Kita bersama seluruh komponen masyarakat harus menjaga bangsa ini agar tidak rusak karena paham-paham yang tidak sejalan dengan paham kebangsaan kita. LDII melalui majelis-majelis taklim, pondok pesantren, sekolah-sekolah binaan LDII mengembangkan insan yang memiliki kepribadian jujur, amanah, kerja keras, hemat, berakhlakul karimah dan mandiri,” kata profesor Syam.

Menurut Menag Lukman Hakim Syaifuddin LDII bersama ormas lainnya menolak radikalisme, dan niat baik LDII di sampaikan kepada presiden, adapun kontroversi negative ldii saati ini sudah tidak ada lagi.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Jika presiden melakukan dialog dengan LDII itu hal yang wajar, sebab ormas islam lainya juga di ajak untuk membahas tentang faham radikalisme di indonesia. Oleh karena itu untuk mencegah perlu melakukan dialog bersama dengan ormas-ormas lain yang di undang secara bertahap.

Check Also

Generasi-Quran-LDII

Ikhtibar Tahfidzul Quran LDII Kecamatan Kras

Ikhtibar Tahfidzul Quran LDII Kecamatan Kras Di era globalisasi ini kita selalu disibukkan dengan gadget …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *